Bondowoso, Nusantarapost.id — Jagat media sosial kembali dihebohkan oleh beredarnya sebuah video yang memperlihatkan sejumlah petugas dapur SPPG Lojajar tengah berjoget ria di area dapur. Video yang diduga direkam di wilayah Bondowoso ini langsung menyedot perhatian publik dan memantik gelombang kritik tajam dari warganet.
Dalam rekaman yang viral tersebut, tampak beberapa individu mengenakan atribut kerja dapur menari mengikuti alunan musik di area yang seharusnya steril dan menjunjung tinggi standar higienitas.
Aksi ini menuai pro-kontra sebagian menganggapnya sekadar hiburan ringan, namun tak sedikit yang menilai tindakan tersebut mencerminkan rendahnya profesionalitas dalam pengelolaan dapur pelayanan publik, terlebih yang berkaitan langsung dengan pemenuhan gizi masyarakat.
Komentar pedas pun membanjiri unggahan video tersebut.
“Ini SPPG apa diskotik yah? Netizen protes menu MBG, malah ini joget-joget. Seakan menari di atas keluhan warga, nggak ada akhlak,” tulis seorang netizen.
Sorotan juga mengarah pada aspek kebersihan dan keamanan pangan.
“Ini bukan tempat steril, apa IG ompreng dibuat bahan VT?” tulis akun IPONK_LAPENDOS di unggahan lain.
Yang makin memantik emosi publik, akun yang disebut-sebut milik Kepala SPPG (KASPPG), Ilham Wahyudi, justru meninggalkan komentar singkat namun kontroversial,
“Lanjutkan.”
Komentar itu ditujukan pada unggahan akun SPPG Lojajar Tenggarang Bws, dan langsung menuai kecaman karena dianggap tidak mencerminkan sikap seorang pimpinan.
Hingga berita ini ditulis, belum ada klarifikasi resmi dari pihak pengelola SPPG Lojajar terkait video tersebut. Publik kini menanti penjelasan terbuka sekaligus evaluasi menyeluruh, terutama jika terbukti terjadi pelanggaran Standar Operasional Prosedur (SOP).
Sementara itu, Bang Juned, Korwil Timur Raya PILAR08, saat dihubungi via telepon menyampaikan keprihatinan mendalam. Ia menilai aksi tersebut tidak etis, terlebih di tengah sorotan tajam terhadap program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan langkah tegas yang sebelumnya telah diambil oleh BGN.
“Kejadian ini harus menjadi perhatian serius. Ini menyangkut citra lembaga dan program mulia Presiden RI, serta kepercayaan masyarakat terhadap kualitas layanan gizi,” tegasnya.
Ia juga mengingatkan bahwa di era digital, setiap aktivitas di ruang kerja berpotensi menjadi konsumsi publik.
“Profesionalitas bukan pilihan, tapi keharusan. Semua aktivitas harus sesuai standar yang berlaku,” tambahnya.
Lebih lanjut, Bang Juned menyinggung latar belakang pimpinan SPPG Lojajar.
“Kita tahu KASPPG Lojajar adalah mantan pejabat teras salah satu partai di Bondowoso. Seharusnya bisa menjadi teladan dan panutan bagi SPPG lain, khususnya di Bondowoso, dengan menunjukkan sikap kepemimpinan yang berintegritas,” pungkasnya.
Kasus ini menjadi alarm keras bahwa kepercayaan publik adalah aset utama dalam pelayanan gizi masyarakatdan sekali tercoreng, tak mudah untuk dipulihkan.






